Tampilkan postingan dengan label KUMCER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KUMCER. Tampilkan semua postingan

MOBIL

“Dinda, pilih dollar atau pilih keluarga?” Isi SMS suami Maroha dikirim minggu yang lalu. SMS itu masih tersimpan di Hp Maroha. Sengaja tidak dihapus. Sebentar-sebentar dibaca dan dibaca. Sampai hafal diluar kepala.
Semenjak datangnya SMS itu, semangat kerja luntur seketika. Semua serba salah, keinginannya marah dan marah. Selera makan hilang, hingga bandan tinggal tulang. Semua rencananya gagal, karena suaminya tidak merestui nambah kontrak. Padahal sudah sejauh hari sudah merencanakan membeli mobil, dengan adanya mobil semua usahanya akan lancar, pikirnya.
“Ada apa, kok kamu tidak seperti biasanya, punya masalah dengan majikan, ya,” Tanya Fitri teman dekatnya.
“Aku pusinggg… benar-benar pusing dengan sikap Mas Sudarjat.” Keluh Maroha sambil tangannya membanting tas tangannya warna hitam ke tanah beralaskan rumput.
“Lho..! kamu tidak akan lama pulang to, kok ribut ada apa?” tanya Ratna teman satu kampong sambil menggelar tikar.
Maroha diam tidak bergeming. Hiruk biruk lapangan victory semakin kental dengan bahasa asli Indonesia. Bayangan suami dan anaknya menari didepan mata bergantian dengan bayangan mobil yang diimpi-impikan.
Keinginan membeli mobil sudah terpatri sejak awal kotrak kedua, tapi baru rencana kontrak yang ketiga hasil kerjanya akan dibelikan mobil. Tetapi, semua impiannya sirna karena tidak mendapat ijin dari suaminya tercinta. Hatinya seketika mendongkol ingin marah, tapi tak mampu meluapkannya.
“Yunda, aku ingin tambah kontrak lagi. Sebab aku ingin punya mobil kayak Yuli tetanggaku sebelah,” kata Maroha pada Ratna sahabatnya.
“Aduhh… Roha. Untuk apa beli mobil, suami dan anakmu itu lebih penting dari pada mobil, lho. Kasihan mereka Roha, pasti mereka sangat merindukanmu sebagai ibu terutama anakmu. Aku saja ingin cepat pulang, tidak tega membiarkan anakku sendiri.
“Sebenarnya Mas Sudarjat sudah punya usaha sendiri dan hasilnya lumayan. Tapi keinginan beli mobil ini cita-citaku sejak kontrak pertama. Padahal keputusan nambah kontrak lagi atau tidak besok terakhir jatah waktu yang diberikan padaku,” ujar Maroha dengan mata berkaca-kaca bak bendungan telaga mau pecah.
Hatinya Maroha semakin mendongkol. Tidak ada dukungan dari teman-teman dekatnya. Semua berharap dia pulang demi anak dan suami, sedangkan di depan kelopak matanya menari-nari bermacam bentuk dan merk mobil. Tinggal pilih lalu dibayar. “Ah, bayangan mobil itu….
Senin pagi cerah. Awan tersenyum manis memperlihatkan cahayanya. Dengan satu keputusan yang tepat sudah ada di benaknya. Tinggal menunggu hari siang bertemu majikannya. Hatinya semakin dimantapkan. Apapun yang akan terjadi dia siap menghadapinya.
“Aku harus menelepon suamiku dulu. ya, aku harus memdengar suara anak dan suamiku sebelum memneri jawaban pada majikan,” ujarnya bicara pada diri sendiri.
Lima menit kedepan, tangannya sudah menempelkan benda kecil di telingga kanannya menunggu jawaban dari seberang. Hatinya sedikit kesal, karena sudah ditelepon dua kali tidak ada yang mengangkat. Dengan wajah cemberut terus mencoba menekan norumahnya.
Tidak lama kemudian. “Assallamu’alaikum…
“Walaikum salam. Putri, ayah dimana? Tanya dengan suara dilembutkan.
“Ayah lagi cuci mobil.” Jawab Putri anaknya tercinta dengan enteng.
“Mobil..???
“Ayah khan beli mobil baru, buuagus lagi. hmmm… bunda kapan pulang? Tidak ingin naik mobil ama Putri, ya? celoteh anaknya yang tidak sempat didengarnya.
Dada Maroha sesak karena riang, bahagia, terharu dan lain-lain. merasaannya sulit dibayangkan. “Oh, mobil…??? Suamiku sudah punya mobil…?? Yah, aku tidak salah dengan, bahwa suamiku sudah beli mobil. Aku punya mobil… aku punya mobil… aku punya mobil… mobil….!!! Suara it uterus mengalun dari mulut Maroha yang berada dalam kamar kecil dan pengap di rumah sakit jiwa porong.






[Selengkapnya]

Label:

BUNGA ANGGREK MALAM


Pagi ini, anggrek bulan yang kutanam dalam pot mekar. Indah. Ia nyebul menantang langit di bawah rerimbunan pohon mangga yang juga mulai berbunga. Warna putihnya menonjol dan menyebul dari hijaunya daun dan batang. Aku hampir saja tak hirau dengan anggrek bulan itu, apalagi tiga hari ini aku nyaris mengurung diri dalam kamar.
Aku malas mendekati bunga anggrek bulan itu. Biasanya saat mengembang aku buru-buru membawa ia ke dalam kamarku. Tapi saat ini, aku tidak ada semangat membawanya, apalagi memandangnya. Hatiku ngilu bila melihatnya, ingat seseorang yang memberi bibit bunga itu. Tepatnya setahun yang lalu, waktu itu kita satu kampus di Universitas Merdeka Madiun.

Aku dekati ia. Kutatap dalam-dalam, lalu kubersihkan batangnya pelan-pelan. Lama-lama jemariku yang tak lentik membelainya. Lalu kuambil dan kupindahkan anggrek bulan itu ke dalam rumah. Kutaruh di ruang tamu, tak lama kemudian kupindahkan ke dalam kamar tidurku. Kutaruh di atas meja dekat ranjangku yang tidak begitu besar. Dengan sangat pelan-pelan aku taruh, seakan tidak ingin pot itu terbentur meja.
Hari ini aku begitu perhatian pada anggrek bulan ini. Sudah beberapa kali berbunga aku cuekin, kubiarkan di halaman, biar semua orang tahu kalau ia yang menjadikan hatiku terluka. Aku biarkan di luar, supaya semua orang menikmatinya, biar semua orang bisa menatap leluasa sambil tersenyum sinis. Saat pertama ia ada dalam kehidupanku, semua keluarga berdecak kagum melihat bunga itu, terutama pada orang yang memberi bibit.
Kali ini aku agak terenyuh melihat bunga itu mulai mekar. Aku ingin menikmati sendiri anggrek bulan yang tengah mekar itu dalam kamar tidurku. Aku tidak ingin orang lain ikut menikmati keindahan anggrek bulanku ini. Aku jadi ingat dia. Wanita yang telah mencuri hatiku setahun silam. Dia banyak mengajakku mengukir kenangan indah. Diah Pitaloka, namanya. Perempuan sederhana yang selalu menjadi bunga tidur tiap malam tiba.
Wajahnya bulat seperti bulan purnama, saat tersenyum sangat manis, memperlihatkan gigi-giginya yang rapi dan putih. Kulitnya kuning langsat sangat serasi dengan postur tubuhnya yang tinggi berisi padat. Diah, nama yang selalu mendengung di telingaku setiap saat. Aku semakin merindukan kembali ke masa-masa lalu saat masih sejalan. Karena prinsip yang berbeda semua menjadi hancur, seakan kenangan manis bersamanya lenyap ditelan sifat ego masing-masing. Hingga masalah beku.
Melihat bunga anggrek bulan, anganku melayang jauh dan berandai-andai. Seberapa indahkah jika anggrek bulan itu kupetik kemudian kusuntingkan di rambutnya yang panjang. Seberapa asrikah anggrek bulan itu jika kusematkan di bajunya. Akankah pesona anggrek bulanku itu akan menambah keanggunannya jika ia berada di sisiku. Getaran-getaran cinta lama pergi dan tak mungkin kembali. Impian yang pernah kita lukis dengan kanvas di atas kertas kehidupan luntur tak berwarna.
Semua menjadi dilema dalam hidupku. Rasa benci pada bunga anggrek timbul bersamaan kepergiannya. Meskipun hati tidak dapat dibohongi kalau sebenarnya sulit membuang rasa cinta ini. Cinta itu seakan merekat di dinding-dinding hati paling dalam. Bayangan wajahnya selalu datang membayangi tiap denyut nadiku. Senyumnya selalu hadir dalam sinarnya pagi menerobos dari celah-celah jendela rumah memberi penerangan.
Bunga anggrek itu sangat istimewa bagiku. Tidak ada barang apapun yang dapat menggantikan kedudukannya di hatiku. Dia akan selalu mengihasi kamar tidurku, memberi semangat hidupku. Tidak akan aku ijinkan hewan apapun menyentuhnya atau menyakiti sedikitpun. Setiap desah nafas pandanganku selalu kearah bunga anggrek bulan. Hari-hariku semakin semangat bila melihat bunga anggrek itu mulai menyepulkan harumnya. Kini semua tinggal kenangan.
Melihat bunga itu kini hati terasa tersayat sembilu. Kesedihan menguasai jiwaku, kian hari tidak ada semangat untuk memijakkan kaki. Semua sia-sia, tidak ada sisa kebahagian menyelip dalam pikiranku yang kian sibuk dengan dunia. Cinta itu kini pergi bersama kehidupannya, dia pergi tanpa pesan kata terlukis dalam kertas burampun. Kenyataan pahit melahap impian yang kita renda dengan kasih sayang.
Bunga itu membuatku teringat kembali bayangan indah yang lama diam. Dia datang dengan tanggan menggenggam sekantong pupuk dan benih bunga anggrek. Dengan tangannya yang lentik dia menanamnya di pot kosong yang berjejer rapi dihalaman depan. Penuh sabar mencampurkan antara pupuk dan tanah yang sudah diberi sedikit air. Dan benih bunga anggrek ditaburkan tipis diatas tanah. Seperti saat pertama kali dia menebarkan benih-benih cinta dalam hatiku, hingga bermekar seiring tumbuhnya bibit bunga anggrek.
Semakin hari rajutan sejuta benang cinta telah menyatu menjadi satu. Rasa rindu kian menyerbu bagai ombak laut siap memangsa pasir di pinggir. Perasaanku kian cemas, takut kehilangan senyumnya yang manis seperti anggur diatas cawan. Hari-hariku kian semangat menapaki kehidupan, hanya karena janji hidup bersama mengarungi samudra.
Dunia seakan milik berdua. Jiwaku semakin dikuasai kasih sayangnya. Memberikan getaran-getaran cinta menyatu dalam hati. Kini, hati dan jiwaku seakan dalam genggaman tangannya. Aku kian lumpuh, tanpa daya karena pesona wajahnya selalu menjadi dilema bayangan tiap mimpiku. Hatiku telah menjadi budak cintanya, semua desah nafasku menyatu dengan desah nafasnya.
Aku masih ingat semua. Ingat ukiran cinta yang kita pahat bersama diatas sebatang pohon menjulang tinggi mendekati langit biru. Tetapi kini langit itu tidak biru lagi, langit itu hitam kelam tanpa ada setitik cahaya sudi memberi penerangan. Kini hatiku hancur berkeping-keping, berserakan tanpa arah. Lalu kemana larinya? Tentu tempat sampah yang akan setia menjadi penghuninya. Kecoa-kecoa siap menjadi teman setia, hingga kian lama menebarkan bau busuk.
Ia telah pergi bersama kumbang berdasi. Tinggalkan aku yang hanya seorang gembel. Gembel yang hanya bisa mengawinkan kata-kata demi sesuap nasi. Semua sudah tamat. Ya… semua sudah berakhir. Berakhir dengan tawa, tawa yang setia menjadi penghuni kamar-kamar penuh dengan desah nafsu. Kini tinggallah keeping-keping hati yang dapat memandangnya dari jauh. Jauh sekali. Karena ia sudah menjadi bunga anggrek bulan malam. Yang selalu bersama orang-orang berdasi dalam ruang kecil dan pengap desah birahi.

[Selengkapnya]

Label:

SENYUM VICTORY

Bruukk!! Sebeeelll….!!!”
Semua penghuni di bawah tenda putih victory park serempak memandang arah suara. Dari suaranya jelas milik Tina, sahabatku yang aku kenal tahun lalu saat sama-sama masih kerja di daerah Shatin. Sambil bibirnya komat-makit tangannya sibuk mengobok-obok dalam tasnya. Persis anak kecil sedang mencari permennya yang hilang. Melihat sahabatku seperti itu, aku segera mendekatinya.
“Kamu kenapa, sih?” tanyaku. Yang ditanya cuma manyun. “Ditanya, kok diam aja. Ya sudah, aku nggak mau peduli, nih!” ancamku.
“Eh...! Jangan. Plis, aku butuh teman untuk curhat, nih! Aku lagi gondok!”
“Gondok ya gondok. Tapi khan tidak kayak gitu, malu tahu.” Lihat wajahmu kusut dan saat kamu banting tas semua teman kaget, dikira kamu marah sama mereka.”
Aku tatap wajah Tina dalam-dalam, seolah ada beban yang menghimpit hatinya. Ingin aku tanya dengan masalah yang dihadapi, tapi aku ragu dan takut dianggap serba ingin tahu. Lebih baik menunggu dia cerita sendiri. Aku kenal betul sifatnya, jadi tidak akan lama pasti cerita mengalir seperti air mengalir dari sungai.
“Aku sebel dengan sikapnya padaku. Emangnya aku siapa, kok brani-braninya menyuruh aku kirim uang untuknya. Dasar laki-laki tidak tahu diri..!” keluh Tina sambil tangannya trus benahi jilbabnya.
“Kamu tuh marah sama siapa? Tahu-tahu marah pada orang tidak jelas siapa, aku tidak paham siapa tuh laki-laki yang kamu maksudkan,” kataku.
“Pokoknya ada, deh. Kamu tidak kenal dia, tapi aku kenal dekat sekali. Bahkan dia sekarang sedang bersemayan dalam hatiku.” Penjelasannya dengan tangan tetap trus merapikan jilbabnya di depan cermin kecil.
Aku diam. Pasti gara-gara cowok yang baru dikenal beberapa bulan lalu. Walaupun dia tidak menyebutkan siapa nama cowok itu, tetapi aku sudah paham dengan keluh kesahnya baru terucap. Kejadian ini tidak hanya sekali dua kali tapi berkali-kali sudah aku ingatkan. Tapi kalau belum merasakan akibatnya sendiri pasti tidak akan percaya.
“Aduhhh….! Kok malah bengong, sih? Memangnya lagi mikir apa.” Tanyanya. Dengan matanya yang bulat terus menatap padaku, bikin aku semakin gemes. Kalau anak kecil pasti pipinya sudah jadi sasaran empuk untuk aku cubitin.
“Sudahlah. Lebih baik kamu sekarang konsentrasi belajar nulis dan kerja aja, deh.” Kataku dengan pandangan terus pada layar monitor computer.
“Iiiiih….kamu! Eh, ngomong-ngomong kamu pernah tidak pacaran sampai bisa pergi duaan. Maksudku nonton film, makan malam bareng atau sekedar jalan-jalan.”
“Emang kenapa ? Kayaknya sulit aku melakukan hal gituan. Ada juga rasa keinginan untuk jalan sama cowok saat masih sekolah, tetapi segera aku buang jauh-jauh dari pikiranku.” Jawabku. Kutatap lekat-lekat wajah temanku, bahkan dudukpun harus aku geser kedia 90% supaya dapat mencari sesuatu disudut matanya dengan baru saja ditanyakannya.
“Aduhhh… Neng? Kok malah menatap aku kayak gitu, sih. Emang ada yang aneh, yah.” Jawabnya sewot sambil tangannya melempar tissu padaku.
Aku kembali berpaling menatap monitor. Walaupun aku tidak dapat menyembunyikan rasa gugupku saat dilempar tissue. Kejadian seperti ini entah berapa kali dialami temanku, tetapi tidak kapok sama sekali. Sedangkan aku perasaan terluka masih ada sampai sekarang hingga dikejar rasa trauma.
“Melamun nih, ye… apa sih yang membuat kamu kayakm gini? Jangan-jangan kamu sudah pernah mengalami kejadian yang sama denganku, ya.”
“Enggak, kok. Kalau putus cinta sih pernah. Tapi cowokku belum pernah minta uang ke aku. Bahkan dia sering membelikan hadiah padaku. Ah, sudahlah lupakan. Kita bicara topic lain aja, deh.” Kulirik temanku dia bengong diam membisu seolah tidak dengar apa yang baru saja aku ucapkan.
Bayangan masa lalu kembali menari di depan mata. Seolah kembali merekam dalam ingatanku saat ini. Kenangan pahit masa silam selalu hadir kapan saja, tidak mau pergi dalam ingatanku yang sudah Sembilan tahun. Bayangan itu selalu mengikuti kemana langkahku pergi, seperti berat meninggalkan kehidupanku kini. Kenangan semasa aku masih sekolah dibangku SMA terbagus di kota aku lahir dan besar.
Saat itu aku baru kenaikan kelas dua, dan juga baru selesei mengikuti pelantikan bantara. Peserta pelantikan dari beberapa jurusan jadi kesempatan dapat kenalan dengan jurusan lain. Selesei pelantikan, aku semakin banyak teman dari sekolah lain. Selain itu, aku orangnya mudah gaul dan suka humor jadi tidak sulit untuk beradaptasi dengan mereka. Tapi nenek tidak suka aku mempunyai teman laki-laki.
“Ingat pesan nenek, kalian tidak boleh terima tamu laki-laki siapapun. Kalau ada tamu laki-laki tidak boleh lama dan dia datang harus ada keperluannya. Kalau sekedar ngobrol tidak aku ijinkan. Jangan dilanggar pesan satu ini!” pesan nenekku saat itu hingga kini terekam dalam memory ingatanku.
Peraturan ketat bikin aku lebih banyak di rumah. Kegiatan kampung karang taruna atau arisan kaum remaja tidak pernah mengikuti, akibatnya aku tidak kenal teman sebayaku. Pernah dimintai bantuan jadi penerim tamu tetangga, kebetulan mempunyai hajat pernikahan. Saat itu penerima tamunya gabungan dari karang taruna beberapa RT jadi satu. Sedangkan aku dan kakak keponakan tidak pernah ikut perkumpulan itu, hingga saat mulai pelaksanaannya kita terasa asing dengan mereka.
Akhirnya kita harus saling kenalan dengan mereka sambil melaksanakan tugas sebagai terima tamu, mempelajari karakter-karakter mereka satu persatu tidak mudah.
“Eh, Mbak namanya siapa? Apakah kamu penduduk baru ya di desa ini?” Tanya salah satu meraka.
“Nggak kok, aku lahir disini dan besar juga dikampung ini. Tapi aku jarang keluar rumah sebab membantu nenekku di pasar,” jawab kakakku berbohong.
Semenjak kejadian itu, aku berontak pada sikap nenekku yang otoriter. Tapi justru ancamannya semakin ketat sampai aku tidak bisa bergerak bebas diluar rumah. Bahkan, ada rencana mengirimku tinggal di asrama putri kota Magelang. Tetap ikut peraturan nenek cara aman supaya dapat berteman dengan siapa saja di sekolahan. Walaupun kadang aku maupun kakak keponakanku sering berbohong pada nenek bila pulang terlambat. Banyak sekali alasan dibuat-buat, bila ingin jalan-jalan ke mall bersama teman sekolah.
Gara-gara nenek, aku kehilangan sahabat dekatku Hendra. Entah, sekarang ada dimana. Terakhir bertemu selesei ujian semester akhir kelas dua, setelah itu dia enah pindah sekolah dimana. Kepergiannya membuatku kehilangan harapan, sebab dia laki-laki yang baik, sopan dan mengerti perasaanku yang tertekan. Tapi semua kini tinggal kenangan. Yah, kenangan yang tak mungkin kembali diulang, bertemu kembali dengannya hal yang mustahil.
“Eeiiittt..! Kok melamun, sih.” Suara Tina membuat aku tergagap kaget.
“Kamu lagi nglamunin pacar, ya. Atau mungkin lagi teringat masa-masa manis bersama pacar. Aduhhh.. cerita donggg…” rengek Tina kayak anak kecil sambil menggoyang-goyangkan tanganku.
“Enggak. Aku hanya ingat masa sekolah dulu. Aku belum pernah pacaran atau pergi berduaan dengan laki-laki kayak kamu.
“Masak, aduhhh. Berarti kamu belum pernah merasakan ciuman, ya.” Celotehnya lagi.
Aku tinggalkan Tina yang masih bengong. Aku hafal dengan kebiasaannya yang tidak pernah berubah. Putus satu tumbuh seribu itu yang selalu dikatakan bila sedang putus cinta. Tidak merasa trauma atau kapok pacaran, putus cinta dianggap hal bisa. Tapi aku teman curhatnya merasa kasihan dengan apa yang lakukan. Aku juga tidak tahu siapa menjadi pendamping hidup kelak, semua diatas segala penentu.
Hari ini tidak seperti minggu biasanya, lapangan victory tampak sepi. Mungkin banyak mengikuti pengajian, biasa diadakan salah satu organisasi di Hong Kong. Atau mungkin tidak libur, biasa minggu ke dua banyak tidak ambil libur. Sudah empat tahun aku bekerja di rumah majikanku, tiap minggu dapat libur. Aku termasuk sebagian BMI dapat nasib baik, sedangkan masih banyak BMI yang tidak dapat majikan baik.
Matahari sudah diatas kepala, sebentar lagi sudah dhuhur. Kupercepat langkahku menuju mushola KJRI untuk sholat disana. Hari ini aku tidak banyak janji dengan teman, hanya janji dengan teman dari PT dulu. Masih ada waktu untuk santai didepan computer bontotku yang kubeli dengan harga murah. Tidak apa, yang penting bisa untuk belajar nulis dan belajar mengoperasikan computer.
“Hai…. Tari..! suara memanggil namaku entah dari arah mana. Aku mencari arah datangnya suara. Dari suaranya, aku pernah kenal, tapi entah siapa namanya.
“Aduhh… tambah cantik aja. Pakai jilbab lagi, wah.. semakin ok.” Kata wanita yang sudah ada didepanku sambil mengulurkan tangannya.
“Hmmm siapa, ya. Maaf aku lupa.” Jawabku sambil terus mengingat-ingat.
“Aiihh.. aku Umi. Sekolah kita khan satu yayasan di Gamaliel. Kamu di STM sedangkan aku di SMEA, waktu pelantikan bantara kita bareng.” Jawabnya nyerocos.
“Oh, iya..ya… aku ingat sekarang. Kamu Umi kost di perumahan dekat STM Gamaliel khan. Kok, sampai disini juga, sih.
“Iya, aku sudah dua tahun di Hong Kong. Tapi aku jarang datang kesini, sebab aku tinggal di Yuen Long.
Diluar rencana akan bertemu teman sekolah dulu. Aku senang bertemu teman lamaku untuk mengenang masa-masa masih sekolah dulu. Yah, masa-masa indah bersama-sama teman pramuka naik ke puncak. Jadi tambah teman lagi untuk saling curhat atau sekedar ngobrol.
“Tari, kamu mau kemana? Boleh tidak aku ikut kamu, sebab aku tidak punya teman, nih.
“Boleh. Kebetulan aku juga sendiri, tadi dengan teman sekarang dia sedang duduk di tenda putih sana. Sambil tanganku menuding arah tenda putih.
Kami melangkah ke KJRI untuk sholat kemudian makan siang di warung malang. Sesuai niatku sebelum bertemu teman sekolah. Diam-diam aku melirik Umi yang sedang jalan disampingku. Ada guratan sedih dan luka disorot matanya yang bening. Tapi itu hanya dugaanku, sebab kulihat wajahnya ceria tapi matanya seolah menyimpan luka.
“Anak kamu berapa?” tanyanya bikin aku kaget. Aku tersenyum untuk menyembunyikan rasa kagetku karena terus memandang ke dia.
“Nikah aja belum, kok punya anak. Kalau kamu gimana, sudah punya belum?”kataku balik Tanya ke dia. Sambil terus memandangnya untuk mencari jawaban.
“Aku sudah punya satu, tapi rumah tanggaku sudah tidak utuh lagi. Suamiku telah menikah lagi dengan wanita asli Jakarta yang kaya dan berpendidikan tinggi.” Jawabnya jujur.
“Oh, maaf. Aku tidak bermaksud mengingatkan masa lalumu.” Jawabku, sambil aku pegang kedua tangannya.
Aku pandang wajah temanku yang tetap ceria dan tegar. Tidak tampak guratan sedih di wajahnya yang putih bersih. Sungguh, dugaanku benar, bahwa dia telah menyimpan luka terpendam. Aku harus jadi temannya yang dapat memberi hiburan. Apalagi di Hong Kong, Negara yang bebas hingga banyak BMI yang tersesat dalam kehidupan salah.
“Aku sudah lupa. Jangan kwatir, aku sudah iklas apa yang terjadi dalam hidupku.” Jawabnya tegar.
Aku rangkul Umi dengan penuh kasih saying. Hanya sekedar member kekuatan dan menyakinkan kalau aku akan selalu menjadi teman baiknya. Sesampai KJRI kita sama-sama masuk dimushola yang sudah penuh teman BMI lainya.
Setelah makan siang, kita habiskan waktu duduk santai di lapangan rumput victory sambil bercerita. Mengenal masa sekolah membuat kita tertawa, hingga lupa kalau siang beranjak pergi ganti sore. Aku dan Umi terus bercanda ria sambil menunggu temanku satu PT yang sudah janjian bertemu sejak hari Jum’at.
Tuttt…tutt…tutt…
Suara Hp-ku berbunyi. Aku langsung mengangkat setelah tahu nama Tanti tertulis dilayar monitor. Tanti teman satu PT yang aku tunggu-tunggu sesuai janji mau bertemu.
“Asslam’ualaikum. Kamu ada dimana, Tari?” suara Tanti dari seberang.
“Walaikum’salam. Biasa, lapangan rumput dekat tempat sampah warna orange. Cepat kesini, ya.” Jawabku lalu aku matikan Hp.
Aku akan kenalkan pada Umi. Supaya Umi tambah teman untuk ngobrol tukar pengelaman selama bekerja di daerah Yuen Long. Tempat yang jauh dari kawasan Causw Bay, tapi menurut ceritanya kalau majikannya akan pindah di daerah Central.
“Hai… tariii..!!” teriak Tanti sambil memelukku dari belakang membuat aku kaget.
“Aduhhh… bikin kaget aja, sih. Mana oleh-olehnya dari China?” tanyaku. Sebab dia dari China bersama majikannya seminggu. Makanya menemuiku hari ini karena punya janji bawakan oleh-oleh serta memberikan barang pesananku.
“Jangan kwatir semua pesananmu ada dan juga oleh-olehmu juga ada.” Jawabnya sambil mencium pipiku.
Tanti teman lama saat di PT dulu. Dia asli orang Cirebon, sedangkan suaminya asli dari Pati jawa tengah. Keberangkatannya ke Hong Kong ingin bantu bayar hutang-hutang suaminya gara-gara usahanya yang bangkrut dan tertipu orang. Tapi walaupun lama kenal, aku belum pernah diperlihatkan foto suami atau anaknya. Bahkan aku juga belum pernah melihat dia ngobrol telepon dengan suaminya.
“Eh, kenalkan ini teman sekolahku dulu.” Kataku sambil memandang Umi yang duduk disampingku.
“Umi, asli dari Ngawi.” Ujar Umi sambil mengulurkan tangan pada Tanti untuk berjabatan. Begitu juga Tanti menerimanya sambil menyebutkan nama dan aslinya.
Kamudian kita bertiga menghabiskan waktu libur dengan ngobrol. Bahkan, kadang terdengar tawa karena kelucuan Umi. Umi anaknya centil dan pandai humor, siapa aja akan senang ngobrol dengannya. Walaupun hidupnya penuh luka, tapi tidak tampak murung di wajahnya.hari-hari penuh ceria menjalani hidup. Aku jadi bangga bertemu dan mempunyai teman Umi dan Tanti yang setia dan saying dengan suaminya.
Jam libur habis. Kita kembali pulang ke rumah majikan masing-masing. Sebelum berpisah, kita bertiga saling tukar nomer telepon supaya dapat saling kontak untuk janjian bertemu lagi. Minggu ini aku bahagia karena bertemu kembali dengan Umi dan temanku Tanti juga mau menerima Umi menjadi temannya juga.
Pertemuan ini diluar rencanaku. Hanya rencananNya terindah, seperti yang aku rasakan sekarang ini. Bertemu dengan teman lama, diluar bayanganku. Minggu ini menjadi kenangan yang tercatat dalam diary harianku. ( Bersambung )



[Selengkapnya]

Label:

AYAH BARU, AYAH LAMA

“Bunda, kemarin putri bertemu ayah baru,” kata putri. Saat kita ngobrol di telepon.
Dek. Aku kaget dengan ucapan putrid baru saja. “Ayah baru? Aduh pasti ada orang laki-laki berkeinginan menculik anakku,” pikiranku saat itu. kawatir dan takut.
Aku bingung dengan ucapan baru saja. Tapi aku ingin bersikap bijak terhadap anakku, makanya aku hati-hati tuk bertanya dari mana mendapat kata-kata itu. Padahal, aku belum menikah lagi. Sekarang, ada orang mengaku ayahnya. Siapa dia? Mungkinkah Sony ayahnya Putri? Oh, tidak…tidak….

“Eh, bunda kok diam. Ada apa hayoooo…
Aduhhh… ini anak kok sudah pandai meledek ya.. Putri bicara apa saja sama orang itu. terus saat itu Simbok kemana ? tanyaku kayak menginterogasi aja. Wekk… pasti deh putrid bingung jawabnya.
“Bunda, kok kayaknya kawatir banget, sih. Simbok nemani putri ngobrol ama Om Sony kok. Om Sony tidak bilang apa-apa, Cuma Tanya sekolahnya gimana. Sebenarnya dia mau ngajak jalan-jalan tapi sama Simbok tidak boleh.
Simbok benar-benar memeggang amanh yang aku berikan. Memang aku tidak ingin kalau anakku di bawa Sony. Uh.. dia tidak punya perasaan, terutama keluarganya yang justru menyuruh Sony menelantarkan aku. Aku tidak ingin anakku punya sifat kayak keluarganya.
“Putri harus dengarkan Simbok, ya. Jangan mau kalau di ajak Om Sony kemana-mana. Kalau mau main atau ngobrol di rumah saja. Putri suka di rumah simbok khan?
“Tapi, bunda… eh tidak jadi deh. Kira-kira bunda maraah tidak ya kalau Putri ingin tahu alasannnya kok tidak boleh ikut ayah baru.
Weeks.. oh, anakku ternyata sudah dewasa dalam berpikir. Aku harus super hati-hati jawabnya supaya tidak membuat hatinya terluka. Putri memang masih kecil tapi daya ingatannya sangat tajam jadi aku harus bisa bersikap bijak dengan jawaban yang akan aku utarakan.
“Hai… bunda kok malah diam, sih. Ok.. putrid tidak Tanya deh.
Weleh… kok aku jadi kikuk, ya. Aku jadi bingung mulai dari mana dulu untuk menjelaskannya. Wah… cari kata yang tepat kok sulit. Eh buka kamus ada tidak kata yang baik untuk anak kecil. Weleh aku jadi mengada-ada sendiri…
“Em… begini Putri saying. Bukan bunda melarang, tapi Putri khan belum kenal Om Sony lebih dekat nanti kalau sudah akrab dan Om Sony sering main ke rumah baru bisa jalan-jalan sama Om. Nanti kalau putrid sudah sekolah SMP atau SMA bunda akan cerita. Jadi Om Sony anggap saja ayah lama ya… jangan bilang soal ayah baru lagi.
Yes! Aku berhasil bisa ngomong. Moga Putri bisa mengerti itu harapanku. Aku akan jelaskan kalau sebenarnya Sony adalah ayahnya. Tapi tidak sekarang, sebab pasti nanti ada pertanyaan yang lebih rumit aku jawab. Ih, karena belum siap saja.
“Jadi, Om Sony bukan ayah baru, ya. berarti belum ada ayah baru lagi. Ayah lama kok kayak India, tinggi lagi.
Waduh.. anakku ternyata pikirannya mudah nangkap. Dari kata-katanya mengharap ayah baru. Asyikkk… bisa nikah lagi. Yah, aku bisa menikah lagi. Meskipun sekarang belum tahu akan menikah lagi. Tapi setidaknya Putri anakku sudah member lampu hijau kalau aku diijinkan.
“Putri, pingin ayah baru? Atau putri ingin ayah lama saja.” Coba aku Tanya siapa tahu dia mengharapkan ayah lama saja. Tetapi itu juga tidak mungkin aku bersatu dengan Sony. Bukan aku egois tapi Sony sudah menikah lagi, bahkan ini baru saja istri yang ke tiga.
“Putri tidak suka ama ayah lama. Dia tidak saying putri, kalau saying kenapa baru sekarang menjenguk padahal Om Sony bilang kalau dia tidak di Hongkong sama Bunda. Jadi selama ini Bunda kerja banting tulang sendiri bukan sekolah Putri dan buat bantu keluarga Simbok.” Ocehnya panjang lebar.
Ya Gusti… anakku sangat sudah dewasa. Belum waktunya dia mengerti soal ini tapi sekarang sudah mengerti. Aku merasa bersalah tidak pernah menungguinya. Entah berapa besar dosa yang aku tanggung selama ini.
“Maafkan bunda saying. Bunda berbohong sama putrid tentang ayah. Tapi kalau sudah gedhe nanti bunda janji akan cerita tentang ayah.” Ups.. aduh..ini air mata kok ikut nimbrung seyy…
“Sekarang sudah dulu, kapan-kapan bunda telepon lagi, ya. jangan lupa belajar yang rajin ya biar tidak kayak bunda. Makan yang banyak ya biar gemuk badannya.
“Iya, bunda. Bunda juga jaga kesehatannya. Jangan kwatir Putri sudah besar, sebentar lagi sudah SMP… ups.. he he he he belum masih lama, sekarang aja baru kelas dua SD.
“Iya saying. Assalam’ualaikum…
“Wlaikum salam…
Percakapn singkat tapi membuat aku semakin rindu dengan buah hatiku. Yah, aku rindu celotehnya seperti orang dewasa. Tapi cerewetnya minta ampun deh, melebihi cerewetnya bundanya he he he padahal aku sendiri bundanya.
Sungguh ini beban terberat bagiku. Yah, aku harus segera pulang untuk mengasuh putri sendiri, menemani belajar dan bermain itu salah satu tanggung jawabku. Tapi tidak mungkin sekarang, aku harus mengumpulkan modal dulu. Tidak lama, aku akan nambah setahun saja setelah itu good bay Hongkong. Yah, semoga Allah mengabulkan segala apa yang aku inginkan ini demi buah hatiku tercinta.
Waktu seakan berjalan lama bila selesei ngobrol ama Putri. Sungguh aku sudah tidak sabar merasakan hari-hari bahagia bersamanya. Aku ingin membahagiakan dia bila pulang nanti, itu pasti.
Sony.. oh laki-laki kurang bertanggung jawab. Dulu saat masih hamil tua begitu saja meninggalkan aku, setelah anaknya lahir dengan seenaknya kajak balik lagi. Weleh.. kok enak banget. Tidak… aku tidak akan kembali lagi dengannya. Semoga Allah melindungiku yah semoga melindungiku dan anakku.
Aku dan anakku akan terbang bebas mengeyam kebahagian walaupun tanpa seorang laki-laki disisiku. Aku yakin Allah akan memberikan terbaik buatku dan anakku. Aku yakin itu.
[Selengkapnya]

Label:

HIDAYAH CINTA

By : Niswa Maqhia Ilma
“Paman harap bulan depan kamu pulang. Penting!” isi SMS paman bulan kemarin.
Kutatap langit, kosong. Bintang penghuni malam sembunyi dibalik mendung. Tidak akan lama aku menghirup udara tanah airku. Sudah empat tahun aku merantau di negara Andy Lau, segala kerinduan pada paman, bibi maupun saudara lainnya tersimpan rapi dalam hati.


Menurut cerita temanku yang baru cuti, banyak perubahan terjadi. Entah, kenapa aku malas pulang, keinginan menjenguk kampung halaman hilang bersama kesibukan yang ada di Hongkong. Rasa kerinduan tersimpan rapi di kalahkan oleh kebencian yang selama ini masih tersimpan dalam hati. Kebencian pada satu orang, tapi membuatku enggan untuk kembali ke tanah air.
“Mbak Cantik, sebentar pesawat akan mendarat.” Tegur Dewi yang duduk di sebelahku.
“Ehh, iya..ya.. makasih,” jawabku gagap karena kaget.
Kembali kualihkan pandanganku ke luar jendela pesawat. Tampaknya di luar hujan rintik-rintik mengguyur kota Surabaya dan sekitarnya. Kulihat lampu-lampu di jalan raya sekitar juanda berjejer rapi. Aku yakin paman dan bibi sudah menunggu di bandara, berjubel-jubel dengan orang-orang lain yang sama-sama menunggu saudaranya pulang.
“Mbak Cantik, sudah ada yang jemput?” tanya Dewi sambil melipat selimut yang disediakan oleh pramugari pesawat.
“Sudah. Kalau kamu sendiri gimana?” aku balik bertanya sambil kutatap sorot matanya yang memancarkan bahagia.
“Jelas ada. Aku yang jemput keluargaku dan calon suami, Mbak.” Jawabnya dengan wajah rona merah malu.
“Mau nikah, nih! Selamat ya, semoga bahagia,” jawabku enteng.
Kutatap wajahnya yang hitam manis, rambutnya panjang hitam. Berbeda dengan kepulanganku saat ini. Kepulanganku ini kuanggap menuju kematian, mati karena dibunuh, atau mati karena tertekan bathin yang telah menghimpit. Pikiranku semakin tidak tenang setelah aku rasakan getaran roda pesawat menyentuh tanah.
Paman pasti sudah menyambut dengan berbagai macam rencana siap disodorkan padaku. Yah, bagaikan pistol siap diletuskan di kepalaku sehingga aku menurut dengan rencana paman. Aku sudah hafal dengan sifat keras pamanku yang sudah aku anggap orang tua kandungku sendiri.
Pesawat mendarat langsung disambut bus yang siap membawa penumpang ke tempat bagian chek in. Harumnya tanah terguyur hujan menusuk hidung hingga membawa ingatanku kembali di masa kecilku. Kenangan indah yang tidak mungkin aku lupakan hingga kini. Bermain hujan-hujanan bersama kedua orang tuaku, kadang juga main tembak-tembakan. Tapi, semua itu tinggal kenangan yang tak mungkin terulang.
Kenangan indah di saat kedua orang tuaku ada takkan terlupakan. Kejadian tragis kecelakaan lima belas tahun yang silam telah merenggut nyawa kedua orang tuaku. Setelah kejadian itu, aku diangkat menjadi anaknya paman. Pamanku adalah adik almarhum ayahku yang kebetulan tidak mempunyai anak perempuan. Pamanku seorang Pendeta yang keras, tapi hatinya baik kepada siapa saja tanpa memandang kedudukan dan agama.
“Hmm…kenapa semua orang-orang yang ada di bandara tampak hitam dan kurus, yah.” Gumamku dalam hati.
“Ehh.. Mbak…mbak… kok orangnya hitam-hitam dan kurus, yah? Wah, kok pada berubah semua, jangan-jangan nanti calonku juga kurus kering dan hitam.” Celoteh Dewi sambil pandangannya terus mengawasi petugas bandara.
“Maklum, lensa mata kamu biasa melihat orang putih, jadi kaget saat melihat orang yang tidak sering kamu jumpai di Hongkong.”
“He..he..he.. iya…ya…aku paham, Mbak!” Jawabnya dengan tawa terus mengembang di bibirnya yang merah terpoles liptik merah jambu.
Sebenarnya aku sendiri pertama melihat orang-orang di bandara juga heran, tapi aku diam. Entah, kenapa aku tidak seperti biasanya. Bila saat aku di Hongkong banyak bicara dan suka bercanda dengan teman-teman baru kenal. Tapi saat ini aku begitu tidak ada gairah sama sekali, walaupun hanya sekedar berkenalan. Pikiranku hanya kepada paman yang meminta aku segera, pulang tanpa boleh ditunda.
“Mungkinkah, Paman akan menjodohkanku? Oh, tidak..! Aku tidak mau kalau memang semua dugaanku itu benar.
“Siapa yang akan dijodohkan, Mbak? Sejak tadi aku lihat, Mbak bicara sendiri.” Sergah Dewi yang sudah ada di belakangku.
“Iiihh.. rahasia dongg…he..he…
Setelah urusan beres aku segera keluar, ternyata adik keponakan dan bibi yang jemput aku. Segera aku sapa mereka, lalu aku cium tangan bibi yang sudah meneteskan air mata sejak aku masih dalam ruangan chek in. aku lihat ada gurat-gurat sedih dan menyimpan sejuta rahasia yang menghimpit hatinya. Aku merasakan ada firasat buruk yang terjadi dikeluarga paman.
“Bibi, gimana keadaan Paman? Kenapa Paman tidak ikut menjemput? Apakah, Paman marah sama Ningrum?” tanyaku pada Bibi tanpa memberi kesempatan menjawab.
“Aduhh.. Ningrum, gimana Bibi bisa jawab kalau kamu berondong pertanyaan, trus.” Jawab Hendro anak Bibi yang pertama.
“Sudah…sudah….! Sekarang kamu istirahat dulu, perjalanan kita masih jauh.” Ujar Bibi sambil membelai kepalaku yang terbungkus jilbab.
Aku mengikuti saran bibi, tapi mataku tidak terasa ngantuk. Kuarahkan kembali pandanganku ke luar jendela, tapi pikiranku trus dikejar penasaran masalah yang terjadi di keluarga paman. Karena tidak biasanya bibi merahasiakan sesuatu dariku, selama ini bibi selalu terbuka dan cerita bila ada masalah. Tetapi, saat ini seperti ada masalah yang sangat serius menyangkut diriku, buktinya aku diharuskan pulang.
Aku merasa kesulitan menebak apa yang terjadi, sebab semenjak datangnya SMS paman bulan lalu, aku jarang sekali menelepon paman atau bibi walaupun sekedar menanyakan khabar mereka. Keadaan galau begini, membuat aku teringat kak Wahyudi. Dia laki-laki yang aku kenal lewat salah satu sahabat lamaku. Walaupun kita kenal baru beberapa bulan tapi kita sudah akrab sekali. Dia enak bila diajak ngobrol tentang wirasusaha sesuai bakatku. Selain itu dia laki-laki yang suka humor jadi setiap ngobrol selalu tidak kehabisan bahan untuk bicara.
“Ningrum, kamu sekarang banyak perubahan. Nanti bila Paman marah, kamu harus sabar.” Kata Bibi membuyarkan lamunanku.
“Maksud, bibi apa? Aku tidak ngerti, selain itu ini perubahan yang wajar sebab aku muslim jadi bila berjilbab khan tidak aneh, Bibi.” Jawabku
“Sudah…sudah ! kita sudah sampai, nih.” Potong Hendro
Segera aku keluar dari mobil disusul dengan bibi. Sambil nenteng tas aku masuk halaman teras rumah. Dalam empat tahu aku tinggalkan sangat banyak perubahan, kebun di depan semakin indah dan bagus. Pinggiran tembok dibangun pancuran kecil yang menyalur ke dalam kolan ikan. Semua sekeliling pagar depan tertanam banyak macam bunga, dan ada tempat duduk untuk santai bersama keluarga bila saat malam indah datang.
Aku hanya terpaku diam saat masuk kedalam rumah yang serba mewah. Pandanganku langsung ruang dalam, kulihat paman sedang membaca Al kitab. Dengan langkah pelan aku mendekati ruang dalam, biasa untuk kumpul keluaga. Langkahku sedikit gemetar dan kaku, dadaku berdetak kencang setelah langkahku mulai mendekat pada kursi yang di duduki paman.
“Paman, selamat malam?” sapaku dengan sedikit gemetar.
“Malam. Lho…! Sudah sampai rumah, kok aku tidak tahu. Gimana khabar kamu?”
“Alhamdulilah baik saja, Paman. Gimana dengan keadaan Paman sendiri?”
“Paman baik. Sejak kapan kamu berubah tertutup begitu. Apa kamu lupa pesan Paman pada kamu, Ningrum?” tanya Paman dengan nada ketus.
Aku hanya tertunduk diam. Pikiranku kacau tidak dapat berpikir, sedangkan tubuhku terasa letih tidak dapat tertahan lagi. Aku berusaha berpikir mencari jawaban tepat untuk pertanyaan paman, supaya tidak semakin marah dan tersinggung. Dadaku semakin berdetak kencang saat tatapan mataku beradu dengan mata paman yang sejak aku datang menamati caraku berpakaian.
“Biarkan Ningrum istirahat dulu, kasihan dia baru pulang capek.” Kata Bibi yang tahu akan kebingunganku atas jawaban Paman.
“Baiklah, sekarang kamu istirahat sana di kamarmu dulu.” Perintah Paman dingin.
“Iya paman. Selamat malam, Paman…Bibi.” Kataku sambil bangkit berdiri jalan menuju ruang atas.
Semua masih seperti dulu tidak ada yang berubah. Oh, pintu kamarku juga sama. Stiker gambar simbul pramuka masih menempel rapi dengan stiker lainnya. Bergegas aku membuka pintu kamar ingin tahu dalamnya. Oh, masih seperti dulu tidak ada perubahan sama sekali. Semua boneka dan buku-bukuku masih tertata rapi di tempatnya.
“Ya Allah berikan kebahagian dalam keluarga Paman karena kebaikannya padaku.” Doaku lirih.
Segera aku mengabil air wudhu lalu mejalankan sholat I’sya yang tertinggal. Kemudian aku langsung merebahkan badanku di atas kasur untuk melepaskan lelah yang melekat dalam tubuhku. Hingga aku tertidur sampai pagi.
Pagi cerah. Angin semilir masuk dari celah-celah jendela rumah. Ayam tetangga mulai berkokok membangunkanku. Dengan malas aku berusaha bangkit dari tidur pulasku karena capek. Segera aku menuju kamar mandi mengambil air wudhu, lalu melaksanakan tugas menghadap Sang Maha Agung.
“Pagi, Mbak Ningrum. Gimana tidurnya? Ayahku sudah menunggu tuh.” Kata Hendro.
“Pagi Dik Hendro. Iya, lelap sekali semalam. Makasih ya.” Jawabku.
Aku melangkah ke lantai bawah menuju ruang makan. Sambil berdoa dalam hati aku mulai mengatur nafasku supaya tidak berdebar-debar. Ada sedikit gemetar kakiku setelah melihat paman sedang menyantap sarapan pagi di ruang makan. Perasaanku semakin tidak enak setelah mendengar suara seorang laki-laki tidak aku kenal sedang ngobrol di samping rumah dekat dapur bersama bibi.
“Selamat pagi, Paman…!” Sapaku sambil mengambil duduk di samping kiri Paman.
“Selamat pagi, Ningrum. Ayo sarapan dulu, sebentar lagi akan Paman kenalkan dengan seseorang.” Jawab Paman sambil terus mengunyah makannya yang masih ada dalam mulutnya.
Aku diam tak menjawab. Karena aku sudah paham dengan kata-kata paman kalau mau dikenalkan pada seseorang. Pasti laki-laki yang ada di dapur bersama bibi itu, akan di kenalkan padaku. Sekarang aku yakin kalau paman bermaksud menjodohkan dengan laki-laki yang sekarang ada di dapur bersama bibi.
“Hallo… Dik Ningrum, apa khabar?” sapa laki-laki tadi bersama Bibi dari arah dapur tepat di belakangku.
“Ningrum, kenalkan ini anak Pendeta Paulus dari Surabaya. Namanya Yonathan Yuda Markus, dia kuliah di Amerika, lho.” Penjelasan Paman padaku sambil mempersilahkan dia duduk di samping kanannya.
“O’ya…! Wah, hebat dong kalau gitu. Pasti pandai bahasa inggris. Boleh dong ajarin aku?” Jawabku ikut memuji seperti Paman lakukan.
“Ah, aku bukan siapa-siapa. Ini semua berkat kebaikan Tuhan. Tuhan mempercayakan padaku setitik kepandaian untuk aku jaga selama di dunia.
“Betul..! Tapi, menurutku tidak hanya harus dijaga saja, melainkan harus di amalkan kepada orang yang membutuhkannya.” Kataku sambil kulirit wajah Yonathan, sekedar melihat rekasinya.
“Ya harus dong..!” Banyak anak-anak yang putus sekolah karena korban gempa kemarin. Jadi, itu adalah nanggung jawab kita untuk membantu mereka.” jawab Yonathan dengan antusias
Aku sedikit berdetak kagum dengan kata-katanya. Sebab, aku mengira Yonathan adalah laki-laki seperti lainnya yang hanya suka berhura-hura dengan kekayaan orang tuanya. Selain itu tampangnya yang rapi dan cara berpakaian juga sederhana tidak kelihatan kalau sebenarnya dia anak seorang pengusaha kaya.
“Ndok Ningrum, maksud kedatangan Yonathan itu ingin mengenal kamu lebih dekat lagi. Tepatnya menginginkan kamu untuk menjadi mendampingnya kelak,” ujar Paman tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“Bukankah begitu, Nak Yonathan?” tanya Paman pada Yonathan yang hanya tersenyum tipis sambil melirik kepadaku.
“Tapi, Paman aku…
“Sudahlah, kalian ngobrol dulu. Paman mau mempersiapkan sesuatunya.” Kata Paman sambil melangkah pergi.
Bibirku kelu, tertutup rapat. Selera makan hilang, roti tawar tinggal sedikit enggan aku masukkan dalam mulut. Dugaanku benar, kalau paman menyuruhku pulang bermaksud menjodohkanku. Tapi, kenapa paman menjodohkan dengan laki-laki yang tidak seiman denganku, padahal paman tahu kalau aku muslim.
“Kak Yonathan, kenapa lakukan ini padaku. Sedangkan Kakak tahu kalau kita tidak seiman,” tanyaku penuh emosi.
“Aku melakukan apa, Ningrum? Aku sendiri juga tidak tahu apa-apa. Papaku hanya menyuruhku pulang tanpa memberitahu apa masalahnya,” jawab Yonathan membela diri.
“Maaf, aku harus masuk kamar. Tidak baik berlama-lama berduaan di tempat sepi, sedangkan kita bukan saudara.” Kataku sambil melangkah pergi.
Semenjak aku tahu maksud paman hatiku gusar, perasaan tidak tenang selalu meyelimuti hari-hariku. Sedangkan rencana pernikahan sudah dekat, tinggal dua hari lagi. Aku mencari jalan keluar supaya pernikahan itu gagal. Tapi kepalaku semakin sakit untuk berpikir.
“Tapi, apa yang harus aku lakukan. Ya Allah, tolong hambaMu ini,” jeritku dalam hati.
Hingga malam tiba, aku belum juga mendapatkan jalan keluarnya. Sedangkan, aku tidak bias keluar dari rumah, kemana-mana selalu dikawal paman. perasaan marah, bosan, sedih berbaur menjadi satu menggerogoti urat nadiku sehingga semangat hiduppun luntur.
“Ningrum, maafkan Bibi sayang. Bibi tidak bisa membantu kamu, Ndok. Kamu tahu sifat pamanmu itu keras, apapun harus dituruti.” Kata Bibi yang tiba-tiba sudah ada di belakangku dengan berlinangan air mata.
“Bibi kenapa ini harus terjadi pada, Ningrum. Bukankah Paman tahu, Bi. Kalau Ningrum dengan Kak Yonathan berbeda kepercayaan.”
Dengan tangis yang tidak dapat dibendung lagi aku tumpahkan di pangkuan bibi. Hingga aku tertidur dengan lelap. Dalam dekapannya. Kini aku bagaikan bayi yang belum bisa melakukan apa-apa selain menagis dan menangis. Sedangkan hari pernikahan sudah diambang pintu.
Pagi cerah. Tidak ada mendung yang tampak. Terdengar burung berkicau di taman depan. Terdengar jelas di telingakku seolah mentertawakan kekalahanku untuk meluluhlantakkan hati paman yang keras bagaikan batu.
“Oh, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Pernikahan itu tinggal beberapa jam lagi. Tolong hambaMu, berikan jalan keluarnya.” Doaku lirih dengan linangan air mata.
“Tok..tok…tok…! suara pintu kamarku diketuk dari luar.
“Ningrum, cepat buka pintu. Ini bibi sayang, bukakan pintunya.” Pinta Bibi mengiba.
“Tidak…! Maafkan Ningrum. Aku tidak akan keluar kamar, aku tidak akan pakai baju pengantin ini dan aku tidak mau menikah dengannya, Bi.”
“Ningrum, Bibi tahu apa yang kamu rasakan. Tapi, Bibi minta jangan membuat keluarga Paman malu dihadapan keluarga besar Pendeta Paulus.”
“Lalu bagaimana dengan perasaan, Ningrum. Paman dan Bibi tega menghancurkan hidup Ningrum. Lebih baik Ningrum mati daripada menikah dengan laki-laki tidak seiman denganku.”
Tangisku semakin keras, semua barang aku banting. Hatiku hancur dan kecewa dengan keputusan pamanku yang tanpa meminta ijin padaku. Mendengar suara barang aku banting, bibi berhenti membujukku. Hingga akhirnya melangkah menjauh dari kamarku. Tidak berapa lama ada suara langkah kaki mendekat ke pintu kamarku.
“Dik Ningrum, aku Yonathan. Tolong bukakan pintunya. Kita bicara baik-baik supaya masalah cepat terseleseikan.” Kata Yonathan dengan hati-hati.
“Untuk apa kamu datang kesini. Tidak ada yang perlu kita bicarakan, bahwa masalah sudah jelas aku tidak mau menikah denganmu,” jawabku penuh amarah.
“Aku tahu. Jangan kwatir kita tidak jadi menikah, asal bukankan pintu dulu.” Rayu Yonathan pelan.
Hatiku bimbang. Dengan permintaan Yonathan untuk membukakan pintu. Sedangkan perasaan takut semakin menjalar menguasai perasaanku. Keringat dingin keluar dengan deras, sedangkan dadaku berdetak kencang. Entah apa sebabnya, perubahan ini terjadi begitu saja setelah mendengar suara halus Yonathan.
“T…tapi Kak Yonathan harus bersumpah dulu, bahwa kita tidak jadi menikah.” Mintaku mengiba.
“Baiklah. Aku bersumpah atas nama Tuhan Allahku. Bahwa aku tidak jadi menikah dengan Dik Ningrum. Bila aku tetap melanggar sumpahku, biarlah Tuhan akan menghukumku.” Sumpah Yonathan dengan tegas.
Setelah aku mendengar sumpahnya, lalu pintu kamar aku buka pelan-pelan. Kudapati Kak Yonathan berdiri mematung tepat di depan pintu kamar. Wajahnya sayu dan kusut terlihat kalau semalam tidak tidur.
“Dik Ningrum, segera ambil beberapa bajumu dan paspor serta tiket. Sebelum Bibi datang kemari,” pinta Yonathan dengan wajah serius.
“Emang, aku mau dibawa kemana?” tanyaku.
“Sudahlah, turuti saja perintahku. Bila kamu ingin selamat dari pernikahan ini,” minta Yonathan dengan sedikit memaksa.
Tanpa menunggu perintah yang ketiga, aku langsung ikuti saja perintahnya. Dengan cepat aku ambil beberapa baju dalam almari dan tidak lupa paspor dan tiketku. Dengan bantuan Kak Yonathan tidak memakan waktu lama semua telah beres. Satu koper kecil penuh dengan bajuku sedangkan tas kecil berisi dompet dan surat-surat penting untuk keberangkatanku kembali ke Hongkong.
“Ok, semua sudah beres. Ayo kita pergi menjauh dari rumah ini dulu.” Perintah Yonathan sambil mengangkat koperku.
Aku mengikuti saja perintahnya. Dengan melewati pintu belakang aku dan Yonathan pergi meninggalkan rumah. Setelah berhasil keluar dari pekarangan, Yonathan mengajakku menuju mobil yang terpakir di samping rumah. Aku mengikuti langkahnya. Ternyata dalam mobil sudah ada temannya Yonathan.
“Kita kemana malam ini?” tanyaku penasaran.
“Aku antar kamu ke bandara Juanda. Segera kembali ke Hongkong masalah Paman biarkan aku yang menghadapinya.” Jawab Yonathan tegas.
“Tapi, aku kwatir kalau….
“Sudah jangan dipikirkan. Kenalkan tuh temanku Lina dan suaminya Sugeng, mereka juga muslim sama seperti kamu. Malam ini, mereka yang akan mengantar kamu sampai bandara. Aku minta maaf tidak bisa ngatar kamu, hati-hati di jalan,” pesan Yonathan dengan tatapan penuh makna.
“Terima kasih, Kak Yonathan maafkan aku,” jawabku dengan merasa bersalah.
“Sama-sama. Ningrum tolong baca surat ini diperjalanan nanti. Selamat jalan,” kata Yonathan sambil memberikan surat bersampul merah hati, kemudian dia beranjak pergi meninggalkan mobil.
Sugeng menjalankan mobil meninggalkan kota Madiun menuju Surabaya. Aku masih diam dengan tangan memegang surat, hatiku gamang antara dibaca atau tidak surat itu. Rasa ingin tahu isi surat semakin membuncak. Akhirnya pelan-pelan aku buka amplopnya.

Buat : Dik Aditia Ningrum Andani
Assalam’ualaikum wr wb
Dik, sebelumnya Kakak minta maaf, dengan kejadian ini. Sebenarnya saya juga tidak tahu apa-apa dengan rencana Paman dan keluarga saya. Saya hanya diperintahkan pulang tanpa dijelaskan alasannya. Tapi memang dua bulan sebelumnya saya jujur pada keluarga bahwa saya suka sama adik setelah melihat fotomu yang memakai jilbab.
Saya mengerti dan tahu alasan adik marah, tapi memang adik punya hak bila menolak penjodohan ini. Tapi ini bukan penjodohan, melainkan memang saya benar-benar mencintai adik sejak dua bulan lalu. Jadi bila adik menolak, ini juga hak adik, saya tidak apa-apa. Saya doakan adik sukses dan hati-hati di Hongkong tetap Istiqomah dalan ibadah, ya.
Dik Ningrum, sebenarnya kakak sudah muslim, tapi belum berani memberitahu Papa dan Mamaku. Adik tahu khan kekerasan mereka? jadi saya harap adik jangan bilang dulu. Kakak tetap sayang dan menunggu hatimu terbuka buat kakak. Selamat jalan.
Wasalam’ualaikum wr wb
Muhammad Yonathan Aziz

“Alhamdulillah. Kenapa tidak bilang sejak kemarin saat ketemu, ya?”
“Dik Ningrum, bicara sama siapa?” tanya Lina sambil menoleh kebelakang.
“Mbak, apakah benar Kak Yonathan sekarang muslim?” tanyaku pada Mbak Lina.
“Iya, Dik Ningrum. Sudah sebulan, semenjak melihat foto Adik. Dia sangat menyayangimu, lho.” Ujar Mbak Lina tanpa basa-basi lagi.
“Mbak Lina, salam buat dia. Katakan kalau memang aku jodohnya tidak akan pergi kemana-mana.” Kataku.
Aku tatap langit yang indah terhias sinarnya bintang. Sambil hati memanjatkan doa padaNya. Karena hanya Dia yang maha mengetahui.
[Selengkapnya]

Label:

Tentang Saya

Saya Ilma Agustin. Ayah dan sekaligus ibu dari Putri, buah hati yang selalu menjadi spiritku.

Hadist

'Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan,' sabda Rasulullah SAW, 'adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi (hadits)